EKONOMIFOODSHEALTHINTERNASIONALLIFESTYLENASIONALOLAH RAGAPOLITIKSYARIAH

‘Tragedi George Floyd’ Dikecam Nabi Muhammad

BARUNEWS – KEMATIAN tragis warga kulit hitam Afrika-Amerika George Floyd memantik solidaritas di berbagai negara. Negeri Paman Sam itu dituding jelas-jelas memberlakukan sikap rasisme terhadap warganya yang berkulit hitam.

George, warga berkulit hitam keturunan Afrika-Amerika ini, meninggal secara tragis di kaki seorang polisi. Dia ditekuk sembari memelas, : Saya tidak bisa bernafas”. Videonya viral sejagat, maka tak pelak lagi, menyulut demo besar-besaran di segenap kota di Amerika Serikat (AS) yang juga berbuntuk aksi penjarahan, pembakaran dan perusakan mobil- mobil posisi yang tengah di parkir.

Gelombang protes pun berresonansi ke Negara-negara lain dan ikut marah. Mereka memamerkaan kata-kata  haru dari George Floyd ketika minta kepada polisi yang menginjaknya, Floyd, I Can’t Breathe, dan Black Lives Matter. “Aku Tak Bisa Bernafas”.

Negera super power ASt yang kerapkali berkoar-koar menuhankan hak asasi manusia, ternyata di negera Presiden Donald Trump ini, rasisme masih ada dan faktanya jelas dengan tragedi kematian George Floyd ini.

Menilik kasus rasisme tersebut, semestinya  tidak populer lagi terjadi di masa sekarang ini, sebab Nabi Muhammad SAW sudah memberikan ajaran islam yang sangat menjunjung keadaban dan perbedaan kulit manusia yang telah diciptakan Allah Swt.

Berikut kisah bahwa Islam sama sekali tidak mengajarkan umatnya untuk berlaku rasisme. Beda warna kulit manusia ini diungkapkan Rasulullah ketika melakukan Haji Wada di tahun 10 Hijriah.

Pada bulan Dzul Qa’dah tahun 10 H, mulailah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan diri untuk menunaikan haji yang pertama sekaligus yang terakhir dalam kehidupan beliau.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kaum muslimin dari berbagai kabilah untuk menunaikan ibadah haji bersamanya. Diriwayatkan, jamaah haji pada tahun itu berjumlah lebih dari 100.000 orang bahkan lebih.

Pada tanggal 8 Zhulhijjah 10 H, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju Mina. Beliau shalat zuhur, ashar, maghrib, dan isya di sana. Kemudian bermalam di Mina dan menunaikan shalat subuh juga di tempat itu.

 Setelah matahari terbit, beliau berangkat menuju Arafah. Setelah matahari mulai bergeser, condong ke Barat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memberikan khotbah. Dan tempat dimana beliau berkhotbah, dibangun sebuah masjid pada pertengahan abad ke-2 H oleh penguasa Abbasiyah dan diberi nama masjid Namirah. Di akhir khotbahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kalian akan ditanya tentangku, apakah yang akan kalian katakan?

Jawab para sahabat: kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau talah menyampaikan (risalah), telah menunaikan (amanah) dan telah menasehati.

Maka ia berkata dengan mengangkat jari telunjuk kearah langit, lalu ia balikkan ke manusia: Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, sebanyak 3x” (HR. Muslim).

 Setelah beliau berkhotbah, Allah Ta’ala menurunkan ayat: “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

 Pada tanggal 11 Dzulhijjah, saat matahari mulai tergelincir ke barat, Nabi Muhammad SAW menuju jamarat untuk melempar jumrah. Dan di sana beliau kembali berkhotbah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Nadhrah, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab), tidak pula orang ajam atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketakwaan.

Baca Juga  Penyaluran BST Sudah Mencapai Rp3,96 Triliun

Kemudian beliau bertanya, “Bukankah aku telah menyampaikan?”

Para sahabat menjawab, “Rasulullah telah menyampaikan.”

Setelah itu beliau mengingatkan kembali tentang haramnya mengganggu harta, menumpahkan darah, dan menciderai kehormatan. Lalu memerintahkan para sahabat untuk menyampaikannya kepada yang tidak hadir.

 Isi khutbah tersebut sangat layak direnungkan. Di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad SAW berpesan bahwa Islam sangat menghargai nyawa, harta dan harga diri. Sebagaimana kehormatan hari Arafah, bulan Zulhijjah di Kota Makkah yang suci ini.

Haji wada’'(perpisahan) adalah pesan perdamaian dunia dan menghargai orang lain, sekaligus mempertegas Islam sebagai agama rahmat dan perdamaian untuk semua.

Soal rasisme ini ada kisah singkat sebagaimana ditulis Ustadz Inayatullah Hasyim. Temanya Kisah Ucapan Rasis Jaman Rosulullah Yang Dilakukan Abu Dzar Kepada Bilal.

Baca Juga  Jokowi Wanti-Wanti Terjadinya Krisis Ekonomi

Dikisahkan, suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari dan Bilal bin Rabah, dua sahabat Nabi SAW, berselisih paham. Abu Dzar keceplosan. Dia mengucapkan, “Dasar, kulit hitam!”. Bilal sangat tersinggung dengan ucapan itu. Dia datang kepada Rasulallah SAW, dan mengadukan kegalauannya.

Rasulallah SAW memanggil Abu Dzar dan berkata, “Di dalam dirimu ada sisa-sisa jahiliyah”.

Rasulullah SAW mengucapkan teguran itu karena kemuliaan seorang hamba tidak diukur berdasarkan suku, ras atau warna kulit. Namun semata karena ketakwaanya kepada Allah SWT.

Abu Dzar terpukul dengan teguran Rasulallah SAW tersebut. Berhari-hari ia termenung, bahkan berkata, “rasanya aku lebih memilih leherku ditebas Rasululllah SAW daripada mendengar ucapannya itu.” Ia mendatangi Bilal dan berkata, “aku akan letakkan kepalaku di tanah, injaklah… Tidak akan aku angkat sampai engkau memaafkan aku”.

Bilal menangis mendapati Abu Dzar demikian terpukulnya. Ia kemudian berkata, “Semoga Allah mengampunimu, Abu Dzar. Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di muka yang penuh cahaya sujud pada Allah itu.” Keduanya lalu menangis, dan berpelukan. Masya Allah.

Begitulah ajaran Islam yang sangat memuliakan harkat dan martabat manusia tanpa membedakan asal usul ras, bangsa dan suku. Yang takwa itulah yang paling mulia. Tragedi George Floyd tak akan terjadi bila Negara adidaya tersebut benar-benar menerapkan ajaran islam. Wallahu’alam.

Penulis: Aspani Yasland

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close