FOODS

Masa Pancaroba, Produksi Telur Menurun, Harga Merangkak Naik

BARU NEWS –┬áMasa peralihan musim dari hujan ke kemarau menjadi masa paceklik bagi peternak telur. Pasalnya, produksi telur mereka turun hingga 15 persen akibat ayam petelur mengalami stres dan sakit.

Ketua Asosiasi Masyarakat Peternak Sumsel, Ismaidi Chaniago mengatakan di masa peralihan musim, kondisi suhu udara saat ini mencapai sekitar 31-32 derajat celcius.

Hanya saja, yang dirasakan di kandang bisa sampai 35-37 derajat akibat kelembaban udara yang cukup tinggi.

“Suhunya lebih tinggi dari pembacaan termometer. Seolah-olah adem tapi nyatanya panas. Karena kondisi kelembabannya tinggi. Cuacanya mendung tapi tidak turun hujan,” ujar Ismaidi saat dibincangi, kemarin.

Kondisi suhu yang panas membuat ayam menjadi stres. Ketika stres, nafsu makannya menjadi berkurang. Asupan gizi yang berkurang menyebabkan ayam menjadi rentan terserang penyakit. Kondisi itu juga membuat produksi telur turun. “Biasanya seekor ayam itu bisa memproduksi 10 ekor telur per hari. Tetapi sekarang berkurang hingga 15 persen. Bahkan, beberapa peternak sudah mengalami kematian pada ternaknya,” ujarnya.

Ismaidi menerangkan kondisi Heat Stress Indeks ayam di kandang saat ini sudah mencapai 170 konstanta. Angka tersebut didapat dari temperatur udara derajat Fahrenheit ditambah suhu kelembaban. Seharusnya, titik minimum Heat Stress Indeks kurang dari 150 konstanta. “Sebelumnya itu angkanya antara 100-130 konstanta. Tapi beberapa Minggu terakhir sudah sampai 170 konstanta,” ungkapnya.

Kondisi stres pada ayam petelur juga membuatnya mudah terserang penyakit. Salah satunya penyakit tetelo yang penularannya cukup cepat. “Beberapa peternak di Sumsel sudah banyak yang terkena. Penyakit ini sangat mudah menular jika sampai dibiarkan,” terangnya.

Baca Juga  Polda Sumsel Siap Antisipasi Kebakaran Hutan Musim Kemarau 2020

Saat tengah berjuang menghadapi kondisi peralihan musim, peternak juga dipusingkan dengan harga Day of Chicken (DoC) ayam petelur yang naik dua kali lipat. Dari semulanya Rp7-8 ribu per ekor menjadi Rp16 ribu per ekor. Kenaikan harga tersebut membuat peternak kesulitan untuk melakukan repopulation. Ayam yang sudah berusia tua dan tidak produktif atau lebih dikenal dengan ayam afkir tidak bisa diganti dengan yang lebih muda.

“Ayam afkir ini di masa Lebaran dijual dengan harga Rp18 ribu per kilonya. Dan ini tidak sebanding dengan harga DoC yang sudah tinggi. Sehingga peternak kehabisan modal untuk memperbarui ayamnya,” ungkapnya.

Parahnya, harga pakan juga meningkat akibat aktifitas impor yang berkurang selama Pandemik Covid-19. Menurutnya, beberapa bahan baku pembuat pakan seperti Soya Bean Meal (SBM) sulit untuk didapat. Sehingga, harga pakan saat ini mengalami kenaikan. “SBM ini 100 persen impor. Tidak diproduksi di dalam negeri. Biasanya didapat dari China, India, Amerika Serikat dan Brazil. Dan ini sudah sulit didapat karena terganggu selama Pandemi,” ungkapnya.

Ismaidi menuturkan saat ini biaya produksi yang dibutuhkan untuk membesarkan ayam petelur hingga berusia produktif 28 minggu per ekornya mencapai Rp80 ribu. “Untuk peternak yang sudah mapan, biaya tersebut tidak menjadi masalah. Tetapi, untuk peternak kecil tentu sangat berat. Sehingga kebanyakan dari peternak hanya mengandalkan ayamnya yang ada saat ini,” tuturnya.

Baca Juga  Penjualan Mobil Anjlok Hingga 95 Persen Imbas Corona

Akibat penurunan produksi tersebut, harga telur ayam mengalami peningkatan di pasar. Dalam kurun waktu seminggu terakhir, harga telur ayam terus merangkak naik. “Untuk permintaan sebenarnya biasa saja. Bahkan cenderung turun. Tapi karena produksinya turun makanya harganya naik,” bebernya.

Ismaidi menjelaskan produksi telur ayam di Sumsel saat ini mencapai 300 ton per hari. Sekitar 30 persennya dijual ke luar provinsi seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Tangerang Selatan dan Bangka Belitung. “Jadi hanya sekitar 200 ton yang beredar di Sumsel,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah bisa mengambil kebijakan untuk membantu peternak menghadapi situasi yang sulit saat ini. Terutama untuk menurunkan harga DoC. “Kami berharap ada campur tangan pemerintah untuk menurunkan harga DoC ini. Agar peternak bisa lebih mudah untuk mendapatkannya,” terangnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perdagangan Sumsel, Iwan Gunawan mengatakan harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional per kilonya mencapai Rp 22 ribu. “Naik dari sebelumnya sekitar Rp20 ribu. Kenaikan ini memang disebabkan kondisi produksi peternak yang mengalami penurunan,” ucapnya.

Hanya saja, kenaikan tersebut masih terbilang wajar dan dapat dijangkau oleh masyarakat. “Walaupun naik, masih batas wajar. Masih terjangkau oleh masyarakat,” katanya.

Reporter: Maulana

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close