EKONOMIINTERNASIONAL

Amerika, Jerman, Hongkong, Korsel, Singapura Resesi Ekonomi Terparah

Amerika Serikat resmi mengalami resesi

 BARUNEWS.com – Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) dibuka melemah tajam pada perdagangan Kamis (30/7/2020). AS yang resmi mengalami resesi langsung memberikan dampak negatif ke lantai bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut.

Ketiga indeks utama langsung masuk zona merah begitu bel tanda pembukaan perdagangan berbunyi. Indeks Dow Jones merosot 1,3% S&P 500 melemah 1% dan Nasdaq minus 0,7%.

Amerika Serikat resmi mengalami resesi setelah produk domestik bruto (PDB) di kuartal II-2020 dilaporkan mengalami kontraksi 32,9%. Kontraksi tersebut menjadi yang paling parah sepanjang sejarah AS.

Di kuartal I-2020, perekonomiannya mengalami kontraksi 5%, sehingga sah mengalami resesi.

Bukan kali ini saja AS mengalami resesi, melansir Investopedia, AS (negara dengan nilai ekonomi terbesar dimuka bumi ini) sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat sejak tahun 1980, Negeri Paman Sam mengalami empat kali resesi, termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008.

Artinya, resesi kali ini akan menjadi yang ke-34 bagi AS.

AS bahkan pernah mengalami yang lebih parah dari resesi, yakni Depresi Besar (Great Depression) atau resesi yang berlangsung selama 1 dekade, pada tahun 1930an. Tetapi kontraksi ekonominya tidak sedalam di kuartal II-2020.

Selain sah mengalami resesi, data buruk lainnya juga datang dari pasar tenaga kerja. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah klaim pengangguran pada pekan lalu bertambah sebanyak 1,434 juta klaim, lebih tinggi dari pekan sebelumnya 1,422 juta klaim.

Sementara itu, Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dini hari tadi mengumumkan kebijakan moneternya. Sesuai prediksi banyak analis, readyviewed Ketua The Fed, Jerome Powell mempertahankan suku bunga acuan 0 – 0,25%, dan kebijakan pembelian aset (quantitative easing/QE) selama diperlukan guna membangkitkan perekonomian AS.

Powell saat mengumumkan kebijakan moneter dini hari tadi juga menyatakan terus meningkatnya kasus Covid-19 di AS membuat pemulihan ekonomi berjalan lambat.

Artinya, kebijakan suku bunga rendah dan QE akan ditahan cukup lama, mengingat perekonomian AS masih jauh dari kata bangkit. The Fed melihat perekonomian sudah mulai pulih, tetapi masih sangat jauh dari level sebelum virus corona menyerang dunia. Sumber: Tim Riset CNBC Indonesia.

Sementara itu, CNN melaporkan, Covid-19 (virus corona) yang telah menjangkiti lebih dari 13 juta jiwa di seluruh dunia juga menyebabkan perekonomian berbagai negara tumbang atau mengalami resesi ekonomi.

Baca Juga  Jaksa Agung AS: China Terlibat dalam ‘Serangan Ekonomi’

Resesi sendiri adalah keadaan ketika suatu negara mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut atau lebih. Berikut adalah negara-negara yang secara resmi dinyatakan memasuki jurang resesi

1. Amerika Serikat

Negara adidaya AS tak berdaya melawan dampak pandemi virus coroba setelah perekonomiannya terkontraksi atau minus 32,9 persen pada kuartal II 2020. Dengan kondisi itu Negeri Paman Sam resmi masuk ke jurang resesi karena kuartal I 2020 pun tercatat tumbuh minus 5 persen.

Kondisi ini menempatkan AS ke ekonomi terburuk sejak 1947. Penurunan ekonomi ini disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang turun 34,6 persen secara tahunan.

Padahal, indikator ini merupakan penyumbang utama ekonomi AS selama ini.

2. Jerman

Pemerintah Jerman mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman minus 10,1 persen. Jerman resmi masuk ke jurang resesi. Pasalnya, PDB Jerman kontraksi 2,2 persen pada kuartal I 2020.

Badan Statistik Federal Jerman menyebut kontraksi dalam PDB menjadi terbesar dan lebih parah dari krisis keuangan 2008-2009. Upaya penanggulangan pandemi virus corona membuat ekonomi anjlok terutama pada sektor ekspor dan impor.

Namun, di tengah resesi ini, Jerman berhasil menahan angka PHK. Angka pengangguran yang dirilis bersamaan dengan PDB menunjukkan stabil 6,4 persen pada Juli, sama seperti bulan sebelumnya.

3. Hong Kong

Hong Kong genap mengalami resesi ekonomi selama empat kuartal berturut-turut sejak 2019. Hong Kong terperosok kian dalam ke jurang resesi pada kuartal II 2020, terkontraksi 9 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

Tercatat pada kuartal III 2019 lalu, laju ekonomi Hong Kong minus 2,8 persen karena aksi demo berkepanjangan. Pada kuartal IV 2019, ekonomi Hong Kong kembali jatuh minus 3 persen yang membuat Hong Kong resmi terperosok ke jurang resesi.

Sekretaris Keuangan Hong Kong Paul Chan mengatakan Hong Kong menghadapi jalan bergelombang menuju pemulihan ekonomi. Sebab, kasus baru virus corona di Hong Kong juga melonjak akhir-akhir ini. Imbasnya, pemerintah Hong Kong kembali memberlakukan pembatasan sosial.

Baca Juga  Tinjau Kawasan Industri Batang, Presiden: Buka Lapangan Kerja Sebanyak-Banyaknya

Di sisi lain, Hong Kong juga kena dampak negatif kembali memanasnya tensi AS-China yang menambah ketidakpastian ekonomi global. Terlebih Hong Kong menjadi sumber api perselisihan AS-China setelah pemerintah China memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong pada awal Juli.

“Bersama-sama dengan terulangnya epidemi lokal baru-baru ini, (faktor-faktor ini) menunjukkan bahwa mungkin diperlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan bagi ekonomi lokal untuk pulih,” kata Chan.

4. Korea Selatan

Korsel juga tak mampu mengelak dari hantaman pandemi dan dinyatakan mengalami resesi pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir karena anjloknya ekspor.

Bank of Korea mengumumkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel terjun 3,3 persen pada kuartal II atau periode April-Juni dibanding kuartal sebelumnya yang terkontraksi 1,3 persen.

Penurunan pertumbuhan ekonomi per kuartal ini bahkan menjadi yang terburuk setelah resesi 1998 silam.

Ekspor terjun bebas 16,6 persen atau tercuram sejak 1963 silam. Sementara, impor terjungkal sebesar 7,4 persen. Namun, konsumsi rumah tangga naik 1,4 persen karena pengeluaran yang lebih tinggi untuk barang tahan lama seperti mobil dan peralatan rumah tangga.

“Ekonomi Korsel telah turun sejak 2017 dan guncangan virus corona mempercepat perlambatan ekonomi,” tutur Direktur Bank of Korea Park Yang-Soo.

5. Singapura

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) mengumumkan data awal (prelimenary) pertumbuhan ekonomi Singapura anjlok 41,2 persen pada kuartal II 2020 dibandingkan kuartal sebelumnya. Sejumlah analis menilai kinerja kuartalan itu merupakan yang terburuk selama pencatatan.

Secara tahunan, ekonomi Singapura juga terkontraksi 12 persen. Penurunan itu lebih dalam dibandingkan kuartal I 2020 yang minus 0,7 persen.

MTI mengungkapkan pembatasan aktivitas yang diterapkan selama awal April hingga awal Juni untuk mencegah penyebaran wabah virus corona. Kebijakan itu mengakibatkan sejumlah bisnis menutup operasionalnya sementara.

Kontraksi kinerja ekonomi terjadi karena negara yang sangat bergantung pada perdagangan itu terpukul oleh pandemi virus corona. Para analis menilai kinerja ekonomi Singapura menjadi sinyal peringatan penurunan laju ekonomi global.

“Ini merupakan data kuartal terburuk selama 55 tahun sejarah Singapura,” ujar Ekonom CIMB Private Banking Song Seng Wun.

 

Editor: Bangun Lubis

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close