SYARIAH

Syukurilah Rezeki yang Datang Menghampirimu

Jaminan rezeki para hamba itu wajib dalam kerangka kebijakan Allah SWT

Oleh aminuddin l Wartawan

Wahai saudaraku …

Sesungguhnya rezeki itu ada empat macam :

Pertama, rezeki yang dijamin (madhmun).

Marhmun adalah makanan (rezeki) yang menjadi penyebab kekuatan tegaknya tubuh. Badan.

Sebagian para Syekh Kramiyah mengatakan jaminan rezeki para hamba itu wajib dalam kerangka kebijakan Allah SWT karena tiga hal :

– Allah SWT ibarat majikan. Sementara kita adalah budak. Adalah keharusan bagi majikan untuk mencukupi bekal yang dibutuhkan (makanan) budak sebagaimana keharusan seorang hamba melayani majikannya.

– Allah SWT menciptakan para hamba yang membutuhkan rezeki dan Dia tidak menjadikan jalan bagi mereka untuk mencari rezeki karena mereka tidak mengetahui aps rezeki mereka, di mana tempatnya, dan kapan datangnya agar mereka mencari rezeki itu sendiri di tem patnya dan dalam waktunya, sehingga mereka datang kepada rezeki itu. Adalah keniscayaan bagi Allah SWT untuk mencukupi para hamba-Nya dalam masalah rezeki dan mendatangkan para hamba itu kepada rezeki mereka.

– Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar berkhidmat. Sedangkan mencari rezeki kadang-kadang menghalangi manusia untuk berkhidmat. Maka mencukupi ongkos-ongkos hidup bagi hamba-Nya menjadi keniscayaan bagi Allah SWT, agar para hamba dapat berkhidmat kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Kedua, rezeki yang dibagikan dan ditetapkan Allah SWT (maqsum) di Lauhul Mahfuzh.

Yakni apa yang dimakan, diminum dan dipakai oleh hamba masing-masing telah ditentukan oleh Allah SWT dengan ketetapan tertentu dan dalam batas waktu tertentu pula.

Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak maju dan tidak pula mundur dari ketentuan yang telah ditetapkan, persis seperti aslinya.

Rasulullah SAW bersabda :

“Rezeki itu telah rampung pembagiannya (tidak lagi diubah). Ketakwaan orang yang takwa tidak bisa menambahi rezekinya dan kedurhakaan orang yang durhaka tidak pula dapat mengurangi rezekinya.”

Ketiga, rezeki yang dimiliki (mamluk). Yaitu harta di dunia yang dimiliki menurut apa yang ditentukan Allah SWT dan dibagikan-Nya untuk dimiliki oleh hamba. Ini adalah sebagian dari rezeki Dia.

Baca Juga  5 Tahun Rerata Pertumbuhan Industri Perbankan Syariah 15%

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu.”
(QS Al-Baqarah 254)

Sedangkan rezeki yang dijadikan, rezeki yang keempat, disebut mau’ud, adalah rezeki yang dijanjikan Allah SWT kepada para hamba-Nya yang bertakwa dengan syarat takwa, berupa rezeki yang halal, yang diterimakan tanpa bersusah payah mencarinya.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar; dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq 2-3)

Wahai saudaraku …

Banyak faktor yang dijadikan Allah SWT untuk memelihara dan menambahnya juga.

Faktor pertama ialah ridha dengan takdir Allah dan mensyukuri takdir-Nya. Allah SWTvakan memberikan imbalan dengan menambah rezeki dan nikmat-Nya.

“Jika kamu bersyukur, niscaya Kutam bah nikmat yang ada padamu.” (QS Ibrahim 7)

Jadi, syukur itu mengundang datangnya nikmat tambahan dan Ridha berdaya mendatangkan kebaikan.

Allah SWT telah memberitahu kita dalam Al-Quran bagaimana kufur nikmat bisa melenyapkan rezeki dan tidak ridha de ngan karunia-Nya bisa menggantinya dengan yang lebih buruk.

“Sesungguhnya bagi penduduk Saba’ terdapat suatu ayat bagi mereka, yaitu adanya dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri negeri mereka. Makanlah rezeki Tuhanmu itu dan bersyukurlah kepada-Nya. Demikianlah halnya negeri yang baik (yang diayomi) Tuhan yang Maha Pengampun.” (QS Saba’ 15)

“Kemudian mereka berpaling, lalu Kami kirimkan kepada mereka banjir besar dan Kami menukar kebun mereka dengan dua kebun lain yang menumbuhkan buah-buahan yang pahit dan pohon atsl (pohon kayu yang tidak berbuah) dan sedikit pohon sidir. Demikianlah balasan Kami, karena kekafiran mereka. Kami tiada membalas yang seperti itu, kecuali orang-orang yang kafir.” (QS Saba’ 16-17)

Baca Juga  Mudik Idhul Adha Tak Dilarang, Tapi Dijaga Ketat

Wahai saudaraku ..

Jika kita melihat pada air, kita menemu kannya tetap saja seperti pada waktu diciptakan dan ditetapkan hingga hari Kiamat.

Kita meminumnya, menyirami tanaman kita, dan mempertahankan hidup kita. Kadar air dalam tubuh kita tidak bertambah dan berkurang.

Air yang kita minum dalam hidup kita adalah air yang ada di dalam tubuh sejak beberapa tahun yang lalu, dsn sesudah dua puluh tahun, bahkan sampai kita dsn anda semuanyaa almarhum, kadarnya tidak bertambah.

Semua yang masuk, keluar kembali se bagai kotoran. Malah kadar yang ada di tubuh kita itu pada sewaktu-waktu tidak dapat mempertahankannya lagi.

Ia akan kembali lagi ke bumi setelah misi kehidupan kita berakhir. Untuk memulai misinya yang baru dalam kehidupan ini hingga akhir zaman.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiyaa’ 30)

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menjadikan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS An-Nuur 45)

“Dan Dia (pula) menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (pu nya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (QS Al-Furqaan 54)

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber literasi :

1. Rezeki karya Prof Dr M. Mutawalli Asy-Sya’rawi.

2. Tanbihul Ghafilin karya Imam Al-Ghazali.

 

 

Foto: mencari rezeki , vivanews.com

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close